Kamis, 13 Juni 2013

BUDIDAYA SORGUM






Sorgum belum dimanfaatkan sepenuhnya di Indonesia karena adanya berbagai hambatan baik dari segi pemahaman akan manfaat sorgum maupun dari segi penerapan teknologi pembudidayaannya.

Karena itulah www.budidayasorgum.com www.benihsorgum.com dan www.tepungsorgum.com berupaya meringkas dan menghadirkan informasi mengenai sorgum dari beberapa sumber.



Sorgum memiliki potensi besar untuk dikembangkan di daerah rawan kekeringan, mendukung peningkatan produktifitas lahan kosong, lahan marjinal dan lahan non-produktif lainnya. Sorgum ditanam dengan sistem ratun sehingga tanaman dapat dipanen dua sampai tiga kali untuk sekali tanam saja. Waktu Tanam Sorgum dapat ditanam pada sembarang musim tanam asalkan pada saat tanaman muda tidak tergenang atau kekeringan. Namun begitu waktu tanam yang paling baik adalah pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. Keunggulan sorgum terletak pada sifat ketahanan terhadap kekeringan, produksi tinggi, biaya relatif murah serta lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman dibanding tanaman pangan lain. Biji sorgum dapat dijadikan tepung sorgum atau disosoh menjadi beras sorgum yang kemudian dimasak menjadi nasi sorgum atau bubur sorgum. Sorgum dapat bertoleransi pada keadaan yang panas dan kering, tetapi juga dapat tumbuh pada daerah yang bercurah hujan tinggi atau tempat-tempat yang bergenang. Penggunaan sorgum sangat beragam, tetapi secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu sebagai bahan pangan, bahan pakan, dan bahan industri.

Sorgum (Sorghum bicolor L.) merupakan salah satu jenis tanaman serealia yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia karena mempunyai daerah adaptasi yang luas, khususnya daerah kering.

Sorgum ditanam dengan sistem ratun sehingga tanaman dapat dipanen dua sampai tiga kali untuk sekali tanam saja. Atas pertimbangan aspek agronomi tersebut, sorgum memiliki potensi besar untuk dikembangkan di daerah rawan kekeringan, mendukung peningkatan produktifitas lahan kosong, lahan marjinal dan lahan non-produktif lainnya.


Tanaman sorgum dapat beradaptasi pada tanah yang sering tergenang air pada saat banyak turun hujan apabila sistem perakarannya sudah kuat.


Waktu Tanam Sorgum dapat ditanam pada sembarang musim tanam asalkan pada saat tanaman muda tidak tergenang atau kekeringan. Namun begitu waktu tanam yang

paling baik adalah pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau.

Keunggulan sorgum terletak pada sifat ketahanan terhadap kekeringan, produksi tinggi, biaya relatif murah serta lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman dibanding tanaman pangan lain.


Biji sorgum dapat disosoh menjadi beras sorgum yang kemudian dimasak menjadi nasi sorgum atau bubur sorgum.


Dari biji hingga batang bisa digunakan, misalkan biji dan batang sorgum dimanfaatkan untuk pakan ternak. Selain bisa untuk memenuhi dua kepentingan sekaligus, yaitu pangan dan bahan bakar nabati, sorgum juga mudah dalam pengelolaan.

Sorgum dapat bertoleransi pada keadaan yang panas dan kering, tetapi juga dapat tumbuh pada daerah yang bercurah hujan tinggi atau tempat-tempat yang bergenang.

Penggunaan sorgum sangat beragam, tetapi secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu sebagai bahan pangan, bahan pakan, dan bahan industri.

Cara Budidaya Sorgum

I.Pengolahan Tanah.

Tanah dibajak dua kali, digaru lalu diratakan. Tanah yang telah siap ditanami harus bersih dari gulma karena fase pertumbuhan sorgum agak lambat kira-kira 3 - 4 minggu, sehingga pada awal pertumbuhan tersebut kurang mampu bersaing terhadap gulma. jika diperlukan buatlah saluran-saluran drainase.

Suhu optimum untuk pertumbuhan sorgum berkisar antara 23° C - 30° C dengan kelembaban relatif 20 - 40 %.


Pada daerah-daerah dengan ketinggian 800 m dan permukaan laut dimana suhunya kurang dari 20° C, pertumbuhan tanaman akan terhambat.


2.Penanaman.

Kebutuhan benih untuk pertanaman sorgum berkisar 10 kg/ha dengan jarak tanam 70 cm x 20 cm atau 15-20 kg/ha dengan jarak tanam 60 cm x 20 cm. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 75 X 25 Cm atau 75 X 20 Cm dengan masing-masing 2 tanaman perlubang. Pada tanah yang kurang subur dan kandungan air tanah rendah sebaiknya di gunakan jarak tanam lebih lebar. Pada waktu menanam, benih ditanam 2 - 3 biji perlubang, kemudian ditutup dengan tanah ringan. Penutupan tanah secara padat dan berat menyebabkan biji sukar berkecambah. Kemudian setelah 3 minggu apabila terdapat tumbuhan yang kurang baik perlu dilakukan penjarangan dengan mencabut tanaman yang kurang baik tersebut. Sehingga pada tiap lubang tersisa ditinggalkan 2 tanaman terbaik untuk dipelihara sampai panen dan agar dapat tumbuh dan berproduksi secara optimum

Bila tidak kekurangan air maka pengairan tidak perlu dilakukan. Sebaliknya, bila kebanyakan air justru harus segera dibuang dengan cara membuat saluran drainase. Sorgum termasuk tanaman yang tidak memerlukan air dalam jumlah yang banyak, tanaman ini tahan terhadap kekeringan, tetapi ada masa tertentu tanaman tidak boleh kekurangan air yaitu

• Tanaman berdaun empat, masa bunting waktu biji malai berisi, pada waktu tersebut tanaman tidak boleh kekurangan air.
• Selama pertumbuhan pemberian air cukup dilakukan 3 ­ 6 kali setiap 4 ­ 10 hari sekali.
• Pemberian air dilakukan pada sore/malam hari, setelah suhu tanah tidak terlalu tinggi.
• Pemberian air dihentikan setelah biji mulai agak mengeras, hal ini dikarenakan agar biji dapat masak dengan serempak.

Sorgum biasanya ditanam melalui biji. Akan tetapi juga dapat diperbanyak dengan stek batang.


3. Pemeliharaan Tanaman.

3.1. Pemupukan.

Tanaman sorgum banyak membutuhkan pupuk N (Nitrogen), namun demikian pemupukan sebaiknya diberikan secara lengkap (NPK) agar produksi yang dihasilkan cukup tinggi. Dosis pemupukan yang diberikan berbeda­beda tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan varietas yang ditanam, tetapi secara umum dosis yang dianjurkan adalah 200 kg Urea, 100 kg TSP atau SP­36 dan 50 kg KCl. Pemberian pupuk Urea diberikan dua kali, yaitu 1/3 bagian diberikan pada waktu tanam sebagai pupuk dasar bersama­sama dengan pemberian pupuk TSP/SP­36 dan KCl. Sisanya (2/3 bagian) diberikan setelah umur satu bulan setelah tanam. Pemupukan dasar dilakukan saat tanam dengan Seluruh Pupuk diberikan dengan cara menyebarnya dalam larikan sedalam ± 1 Cm. Untuk pemupukan pertama jaraknya 7 Cm di kiri kanan barisan tanaman, sedangkan pemupukan kedua jaraknya ± 15 Cm.Urea dan TSP/SP­36 dimasukkan dalam satu lubang, sedang KCl dalam lubang di sisi yang lain. Pemupukan kedua juga ditugal sejauh ± 15 cm dari barisan, kemudian ditutup dengan tanah. Lubang tugal baik untuk pupuk dasar maupun susulan sedalam ± 10 cm.


3.2. Penyiangan Pada awal pertumbuhan Sorgum kurang dapat bersaing dengan gulma, karena itu harus diusahakan agar areal tanaman pada saat tanaman masih muda harus bersih dari gulma. Penyiangan pertama dapat dilakukan pada saat tanaman sorgum berumur 10 - 15 hari setelah tanam. Penyiangan kedua dilakukan bersama-sama pembumbunan setelah pemupukan kedua. Pembubunan dimaksud untuk memperkokoh batang. Pembubunan Pembubunan dilakukan dengan cara menggemburkan tanah disekitar tanaman sorgum, kemudian menimbunkan tanah tersebut pada pangkal batang tanaman sorgum yang bertujuan untuk mengokohkan batang tanaman agar tidak mudah rebah dan merangsang terbentuknya akar­akar baru pada pangkal batang.


4. Hama Penyakit

4.1. Penyakit Utama

1) (Penyakit Bercak Daun). Penyakit ini menyebabkan bercak pada daun dengan warna kemerah-merahan atau keungu-unguan dan menyebabkan busuk merah pada batang dimana jaringan bagian dalam buku berair dan berubah warnanya. Penyakit ini menyebar secara luas. Bercak daun mengakibatkan daun mengering.


2) (Penyakit Blight). Penyakit ini menyerang sorgum secara luas, terutama pada kondisi yang lembab. Serangan penyakit ini menimbulkan bintik-bintik ungu kemerah-merahan atau kecoklatan yang akhirnya menyatu. Penyakit blight daun dapat menyerang pembibitan maupun tanaman dewasa.


3) (Penyakit karat) seranganrya terjadi secara luas pada sorgum. tetapi jarang menyebabkan kehilangan yang serius. karena pertumbuhan penyakit tidak berlangsung lagi apabila tanaman sorgum telah mencapai dewasa.


4.2. Hama Utama

1 ) (Lalat Bibit Sorgum). Hama ini merupakan hama yang utama di daerah tropis.

2) (Ulat daun).; Pengendaliannya dengan menggunakan insektisida dengan jenis dan dosis yang dianjurkan.


5. Panen dan Pasca Panen.

5.1. Panen

1) Cara Panen. Panen dilakukan dengan cara memangkas tangkai mulai 7,5 - 15 cm dibawah bagian biji dengan menggunakan sabit.


2) Waktu Panen. Sorgum dipanen apabila biji dianggap telah masak optimal, biasanya ± 45 hari setelah bakal biji terbentuk.


Panen Tanaman sorgum sudah dapat dipanen pada umur 3 ­ 4 bulan tergantung varietas. Penentuan saat panen sorgum dapat dilakukan dengan berpedoman pada umur setelah biji terbentuk atau dengan melihat ciri­ciri visual biji. Pemanenan juga dapat dilakukan setelah terlihat danya ciri­ciri seperti daun­daun berwarna kuning dan mengering, biji­biji keras serta berkadar tepung maksimal. Panen yang dilakukan terlambat tau melampaui stadium buah tua dapat menurunkan kualitas biji. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada keadaan cuaca cerah/terang. Pada saat pemanenan sebaiknya pemotongan dilakukan pada pangkal tangkai/malai buah sorgum dengan panjang sekitar 15 ­ 25 cm. Untuk meningkatkan produksi sorgum dapat dilakukan budidaya  lanjutan dengan cara ratun yaitu pemangkasan batang tanaman pada musim panen pertama yang dilanjutkan dengan pemeliharaan tunas­tunas baru pada periode kedua. Adapun tata cara budidaya sorgum ratun setelah panen musim pertama adalah sebagai berikut :

• Seusai panen pada musim pertama segera dilakukan pemotongan batang yang tua tepat diatas permukaan tanah.
• Tanah disekitar tanaman sorgum dibersihkan dari rumput liar/gulma.
• Di buatkan larikan kecil sejauh 10 ­ 15 cm dari pangkal batang tanaman sorgum kemudian disebarkan pupuk yang terdiri dari 45 kg Urea + 100 kg TSP + 50 kg KCl per hektar. Satu bulan  kemudian diberikan pupuk susulan berupa 90 kg Urea/ha.
• Tanaman yang berasal dari tunas­tunas baru (ratun) dipelihara dengan baik seperti pada pemeliharaan tanaman periode pertama.
• Pada stadium buah tua dilakukan panen musim kedua. Hal yang sangat perlu diperhatikan adalah tata cara pemotongan batang tanaman. Pemotongan harus tepat dilakukan diatas permukaan tanahagar tunas­tunas baru tumbuh dari bagian batang yang berada di dalam tanah

5.2. Pasca Panen.


1) Pengeringan. - Biasanya pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran selama ± 60 jam hingga kadar air biji mencapai 10 - 12 %. kadar air tidak boleh lebih dari 10 - 12 % untuk mencegah pertumbuhan jamur. Kriteria untuk mengetahui tingkat kekeringan biji biasanya dengan cara menggigit bijinya. Bila bersuara “istilah wong jowo (KEMRATAK)” berarti biji tersebut telah kering. Apabila hari hujan atau kelembaban udara tinggi, pengeringan dapat dilakukan dengan cara menggantungkan batang-batang sorgum diatas api dalam suatu ruangan atau di atas api dapur.


2) Perontokan - Perontokan secara tradisionil dilakukan dengan pemukul kayu dan dikerjakan di atas lantai atau karung goni. Pemukulan dilaku- kan terus menerus hingga biji lepas. Setelah itu dilakukan penampian untuk memisahkan kotoran yang terdiri dari daun, ranting, debu atau kotoran lainnya.


3) Penyimpanan  - Penyimpanan sederhana di tingkat petani adalah dengan cara menggantungkan mulai sorgum di ruangan di atas perapian dapur. Cara ini berfungsi ganda yaitu untuk melanjutkan proses pengeringan dan asap api berfungsi pula sebagai pengendalian hama selama penyimpanan. Namun jumlah biji yang dapat disimpan dengan cara ini sangat terbatas. Pewadahan dan Penyimpanan Biji sorgum segera diwadahi dalam karung, tiap karung sebaiknya berkapasitas 25 kg ­ 50 kg, kemudian disimpan dalam gudang penyimpanan yang kering dan berventilasi baik.

3 hal yang perlu diperhatikan saat menyimpan biji sorgum, yaitu:

1.kadar air

2.suhu
3.kelembapan

6) Pengolahan


Pada umumnya biji sorgum berbentuk bulat dengan ukuran biji kira-kira 4 x 2,5 x 3,5 mm. Berat biji bervariasi antara 8 mg - 50 mg, rata-rata berat 28 mg.


Berdasarkan ukurannya sorgum dibagi atas:

-sorgum biji kecil (8 - 10 mg)
-sorgum biji sedang ( 1 2 - 24 mg)
-sorgum biji besar (25-35 mg)

Kulit biji ada yang berwarna putih, merah atau cokelat. Biji sorgum merupakan biji yang sangat mudah rusak selama penyimpanan.



Pembuatan sorgum menjadi beras sorgum giling dan tepung sorgum dapat memperpanjang waktu simpan dan memudahkan penggunaannya untuk bahan makanan.

a) beras Sorgum (beras sorgum giling) beras Sorgum yang dimaksud adalah biji Sorgum lepas kulit sebagai hasil penyosohan sehingga diperoleh beras sorgum giling. Untuk menyosoh biji sorgum digunakan mesin yang terdiri dari silinder gerinda batu, sehingga beras yang dihasilkan putih bersih. Dengan sifat ini ternyata sorgum jenis non waxy dapat digunakan sebagai nasi, bubur dan bentuk olahan lain. Sedangkan jenis sorgum ketan (waxy Sorgum) yang rasanya pulen dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat minyak (snack) seperti tape, rengginang dan wajik.


b) Tepung Sorgum. Tepung sorgum dapat diperoleh dengan menggiling beras sorgum dalam mesin yang dilengkapi dengan silinder besi yang tajam dan licin. Tepung sorgum dapat diolah menjadi aneka macam menu masakan seperti mi, sereal, biskuit, bubur, kue dan nasi sorgum, biji sorgum dapat juga digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak unggas, sedangkan batang dan daunnya untuk ternak ruminansia.


Produktivitas yang tinggi ini dapat dicapai dengan menerapkan teknologi budi daya secara optimal, antara lain penggunaan varietas hibrida, pemupukan  secara optimal, dan pengairan.



UNDER CONSTRUCTION




UNTUK SETIAP KERJASAMA YANG SALING MENGUNTUNGKAN, BISA DIBICARAKAN/ DINEGOSIASIKAN, DIRENCANAKAN DAN DISESUAIKAN DENGAN KEADAAN, MAKSUD DAN TUJUAN.KETERBUKAAN, KONSISTENSI, KEJUJURAN, KEMUDAHAN DAN SALING MENDUKUNG AKAN BERAKHIR DENGAN SALING MENGUNTUNGKAN.

SILAHKAN SMS 


TERIMA KASIH